Jangan Putus Semangat dan Jangan Biarkan Pupus Waktu Semangat - Semangatnya


Impian atau cita-cita agaknya adalah hal yang pasti dimiliki semua orang yang hidup di dunia. Namun pandangan terhadap apa itu mimpi dan bagaimana menyikapinya tentulah berbeda dengan setiap orang.

Beberapa waktu lalu saya berkesempatan untuk mewawancarai salah satu pengurus FLP tentang padangannya soal Impian atau cita-cita. Beliau sering disapa dengan nama Rosita, bertugas sebagai Bendahara di Forum Lingkar Pena Surabaya.

Mungkin pada artikel kali ini, saya akan menyimpulkan sedikit dari hasil wawancara saya bersama Mbak Rosita.

Beliau melihat impian sebagai sesuatu hal yang ingin kita capai di dunia dan merupakan cikal bakal dari cita-cita. Baginya, suatu impian tidak melulu harus besar. Bisa apa saja, tergantung bagaimana manusianya.
Menurut beliau, memiliki impian adalah penting. "Jika kita ndak punya impian seperti perahu yang melaju tanpa tujuan," tuturnya. Kemudian beliau menambahkan " Orang kalau Ndak punya impian pasti hidupnya Ndak terarah. Bakalan amburadul. Dan pada akhirnya Melakukan sesuatu yg kurang bermanfaat."
Dari pernyataan tersebut bisa kita ambil contoh, seperti orang yang tidak punya gairah hidup. Tidak tahu apa yang dituju atau yang ingin dicapai. Bahkan untuk mempertahankan hidup juga malas, akhirnya hanya menggantungkan hidup pada orang lain. Maka dari itu saya setuju. Sekecil apapun, manusia harus memiliki impian.

Dalam kesempatan tersebut juga saya menanyakan soal kegelisahan saya saat melihat orang-orang yang terlalu terobsesi pada impiannya. Dan jawaban beliau cukup membuat saya terkejut, pasalnya beliau menyikapi 'obsesi' secara berbeda. Beliau berkata, "Obsesi itu ada dua kalau menurutku, sih. Obsesi yang mengarah kepada kebaikan dan obesesi mengarah kepada keburukan. Selama hasilnya baik dan tidak berakibat buruk bagi orang lain kenapa enggak, Mbak ? Heheheh". Dari jawaban tersebut pandangan saya menjadi luas tentang obsesi. Kata ini sering dinilai negatif oleh kebanyakan orang. Namun ternyata ia kembali lagi bagaimana kita menempatkannya.

Selain itu dalam menggapai impian, gagal juga adalah kata yang tak dapat dilepaskan dari perjalanan itu. Gagal setelah melakukan usaha yang keras pasti akan terasa menyakitkan. Hal ini tidak bisa dipungkiri oleh siapapun. Mbak Rosita membagikan sedikit caranya menyikapi kegagalan dalam mencapai impian. Selain dengan mencari seseorang untuk menyemangati kembali, beliau juga menyarankan untuk evaluasi. Dari evaluasi ini kita bisa tahu apa yang salah dari usaha kita. Apakah itu datang dari diri sendiri atau kita salah memilih cara. Menganti impian? Tidak masalah sama sekali. Mungkin akan sulit bagi sebagian orang untuk mengganti impiannya. Namun perasaan menerima, 'mungkin itu bukan jalannya' akan mempermudah prisesnya.

Bagi saya, segala impian hanya rangkaian cara. Pada akhirnya kita pasti memiliki satu tujuan saja. Entah itu untuk membahagiakan orangtua, sukse dunia dan/atau sukses akhirat. Seperti kata pepatah, 'Banyak Jalan Menuju Roma'. Milikilah banyak impian supaya dapat mencapai tujuanmu. Masih kurang semangat? Jadikan tujuan tujuanmu seperti target. Kalau Mbak Rosita bilang, "Impian itu baiknya di pajang atau ditempel ditempat dimana kita bisa lihat setiap waktu. Jadi selalu inget dan nggak lupa sama impian itu dan apa yg harus dilakukan untuk bisa mencapai impian itu. Kalau impian disimpan didalam hati tok kayak e kurang greget. Sewaktu waktu bisa lupa gitu."

Selalu ingat tujuang akhir atau alasan kita menggapai mimpi. Jangan putus semangat dan jangan biarkan pupus waktu semangat-semangatnya.

0 komentar