PENA MENARI
  • Beranda
  • Fiksi
  • Non Fiksi
  • Food
  • Contact Me
Pada apa apa yang aku inginkan kamu tak datang 
Pada apa apa yang aku harapkan kamu kini diam 

Kedengarannya, kamu sudah biasa tanpa aku
Lebih cepat dari perkiraan
Yang dulu ku kira,
Kamu begitu membutuhkan aku

Syukurlah,
Kamu bisa hidup dengan baik
Makan dengan lahap
Menebar kasih sayang di manapun
Tidak menyakiti diri sendiri

Syukurlah,
Jalan yang ku ambil memang baik

Di sini semakin dingin, 
Tanpa pelukmu, 
Tanpa genggamanmu,
Tanpa sapaanmu

Aku di sini hampir membeku 
Karena aku mendamba cumbu 
Yang tak mampu ku dapatkan darimu, 

Mungkin cuma aku yang berharap
Kamu datang memintaku kembali 
Karena sejatinya, 
Kamu tak menginginkan aku ada 

Aku di sini 
Di dalam ruang sepi 
Sendiri 
Aku harap, kamu mau berkunjung ke sini
Kira-kira apa ya, yang aku rasakan tapi tidak kamu rasakan
Mm.. Mungkin, merasa tidak diutamakan
Ah, tapi sepertinya kamu tak sepenting itu juga buat ku? Iya kan kamu merasa begitu?

Mm.. Merasa istimewa karena pasangan mencoba dekat dengan keluarga?
Ah, tapi itu sudah jadi prinsipmu kan untuk tidak memberi harapan lebih
Sekarang, malah aku yang salah sepertinya karena memberi banyak harapan kosong pada orangtuamu
Yah, tapi sepertinya ibumu pun tak begitu menyukai aku, apa lagi ayahmu? Bagaimana?

Mm.. Merasa baper akan tulisan yang aku buat?
Ah, kalau itu sih mau kamu bertanya pun pasti aku jawab
Iya ini dan itu memang menceritakan kamu
Tidak seperti aku,
Meski aku sudah bertanya eh ternyata memang bukan tentang aku, malunya..
Terlalu percaya diri dan juga mungkin tak tau diri

Dulu, kita pernah mengakui, kita merasakan hal yang sama
Sama-sama merasakan apa yang kita masing-masing rasakan

Sekarang, karena sudah tidak ada lagi kita,
Maka, rasa kita jadi harus sendiri-sendiri
Dan menebak nebak sendiri
Apa aku juga kamu masih merasakan hal yang sama
"Kamu membuat aku terjebak di lingkaran hitam," 
"Itu memang salahku, tapi kita bisa berubah," 
"Tapi berubah tidak semudah itu bagiku, apalagi bersama kamu yang cuma bisa berucap saja," 
"Kamu harusnya berkaca diri," 
"Aku tak ingin menyalahkanmu," 
"Tapi itu yang selalu kamu lakukan," 
"Maaf," 
"Kamu bisa berubah jika kamu ingin, sayangnya kamu tidak" 

Dan aku secepatnya ingin pergi dari khayal-khayal tentangmu
Iya, karena aku cuma seorang pengecut 
Yang tak pernah berani mengakui kesalahanku sendiri 
Pada akhirnya
Kamu tak kunjung dapat menjadi seperti apa yang kamu nasihat kan pada orang lain
Pada akhirnya kamu hanya bergantung pada aku
Terus berkata mari mulai
Tapi kamu tak melangkah
Terus memintaku berlari
Tapi kamu?
Diam di tempat
Sudah pernah
Ya sudah
Hanya begitu

Mungkin semesta juga tidak merestui kita
Dinding entah kenapa bisa terus berdiri
Meski berkali kali kita hancurkan

Yogyakarta - 30 Des 2018
Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

ABOUT ME

Wanita yang pasti cantik karena tidak mungkin ganteng. Dengan segala hal yang masih biasa-biasa saja. Senang bersyukur dan belakangan juga senang mendengarkan. Karena bercerita paling seru bagi saya, hanyalah lewat tulisan.

SUBSCRIBE & FOLLOW

POPULAR POSTS

Categories

  • Fiksi 5
  • Non Fiksi 1
  • Prosa 1
  • Prosais 1
  • Puisi 1

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Cari Blog Ini

Arsip Blog

  • September 2020 (1)
  • Juni 2020 (1)
  • Agustus 2019 (1)
  • Februari 2019 (2)
  • Januari 2019 (5)
  • Desember 2018 (5)
Diberdayakan oleh Blogger.

Total Tayangan Halaman

Designed by OddThemes | Distributed by Gooyaabi Templates